Welcome

Welcome to my blogs friends....

Rabu, 12 Mei 2010

Cinta Terpendam

Ketika aku di SMP
Aku duduk di samping bangku seorang gadis. Aku berkenalan dengannya, dan mengenalnya sebagai gadis yang baik. Aku memandangi rambutnya yang hitam bersinar, matanya yang indah, dan wajah yang selalu tersenyum. Kemudian kami menjadi sahabat yang baik, meski sebenarnya aku ingin memilikinya lebih dari sekedar sahabat.
Seusai sekolah, dia mendatangiku dan meminta buku catatannya yang tertinggal. Dia mengucap “ terima kasih " dan memberiku senyum. Aku ingin mengatakan kepadanya, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat. Aku mencintainya tapi aku malu mengatakannya. Entahlah�

Ketika aku di SMA
Telepon berdering, dan dia yang sedang menelpunku. Dia menangis sesenggukan sambil menceritakan tentang cinta yang telah menyakiti hatinya. Dia memintaku datang sebab dia tidak ingin bersedih sendiri. Lalu aku pergi mengunjungi rumahnya.
Ketika aku duduk disampingnya, aku tahu dia begitu sedih. Aku memandang matanya yang begitu bening, sambil berusaha untuk tetap menenangkannya. Setelah dua jam melihat TV, menghabiskan tiga bungkus chips, dia memutuskan untuk tidur.
Dia memandangku dan berkata “ terima kasih “, sambil memberiku senyum. Aku ingin bilang, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin kita lebih dari sahabat. Aku mencintainya. Namun aku masih merasa malu. Entahlah�

Di hari ulang tahun seorang teman
Beberapa hari sebelum acara itu, dia barjalan ke lockerku. “ Pacarku sakit “ katanya “ Dan sepertinya percintaan kami juga bubar, aku tak punya pacar sekarang “. Aku memandangnya, tapi tak bisa lebih, sebab kami ingat bahwa sejak hari pertama jumpa telah bersumpah, jika kami hanya sekedar “ sahabat baik “. Maka jadilah kami sahabat.
Pada malam itu, disaat semua acara selesai, aku mengantarnya pulang. Aku berdiri didepan pintu, memandangnya saat ia memberi senyum sambil memandangku dengan mata beningnya. Aku ingin sekali dia menjadi milikku, tapi aku kira dia tidak berpikir demikian.
Kemudian dia berkata “ ini adalah malam terbaik yang kumiliki, terima kasih" katanya sambil tetap memberiku senyum. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku mencintainya, tapi aku masih juga malu, karena aku pikir dia terlalu baik buatku.

Di hari kelulusan kami
Hari dan minggu silih berganti, bulanpun terus berjalan. Sampai pada hari kelulusan kami. Aku memandangnya sebagai gadis yang sangat menawan, berjalan diatas panggung dengan baju yang begitu menarik. Aku masih memimpikan dia sebagai milikku, tapi dia tentu tidak berpikir demikian.
Sebelum orang-orang pada pulang, dia datang kepadaku, menangis gembira saat aku memeluknya. Aku tahu dia gembira karena kelulusannya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan berkata “ Kamu adalah sahabat baikku, terima kasih “. Lalu dia memberiku senyum lagi, begitu manisnya. Aku benar-benar ingin mengatakan bahwa aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat baik. Aku mencintainya, tapi aku malu mengutarakannya, karena aku pikir dia menganggapku hanya sebagai sahabat baik. Entahlah�

Beberapa tahun kemudian
Sekarang aku duduk di emper sebuah masjid. Aku melihat gadis itu menikah. Aku dengar saat ia mengucap “ Ya�saya terima nikahnya “. Aku tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya memandangi gadis sahabat baikku itu menempuh hidup baru, menikah dengan lelaki lain.
Tapi sebelum dia pulang, dia menghampiriku, memberiku senyum sambil hanya bisa berkata “ Terima kasih “.
Hatiku masih tetap ingin mengatakan bahwa selama ini aku sangat mencintainya, namun aku malu karena hal itu sudah tidak mungkin.

Di hari pemakaman
Tahun-tahunpun berlalu. Aku memandang sedih pada peti mati gadis yang dari dulu kuanggap sebagai “ sahabat baikku “. Pada saat itu ada yang membaca buku harian gadis itu, yang ditulis pada saat dia masih di SMA.
Buku harian itu berbunyi “ Aku memandangnya dan berharap dialah milikku, tapi dia tidak memperhatikanku demikian. Aku hanya sanggup mengucapkan “ terima kasih “ atas perhatiannya yang tulus kepadaku. Aku ingin mengatakan kepadanya, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin lebih dari sekedar “ sahabat baik “. Aku mencintainya, tapi aku malu. Aku hanya berharap saat itu dia mengatakan bahwa dia mencintaiku “.

“ Seandainya hal itu kukatakan dulu�” pikirku, lalu menangis.

“ I LOVE YOU “

Minggu, 11 April 2010

Cerita Menyentuh Hati



Kisah ini mungkin saja terjadi dalam hidup anda..
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari
laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok,
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu
takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! “
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi
yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya
dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup
keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden
tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan
lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8
tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok
di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air
matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?
Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca
banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan
memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga
(di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun
menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar,
dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu
semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada
teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat
bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu
saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa
terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak
perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah
adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah
adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu
melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela
baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu
tidak menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak,
jagalah mertuamu saja.
Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya,
saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius.
Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti
itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun
itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani
dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa
bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua
jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.